Sesuai
dengan kesuciannya dalam struktur manusia, Allah telah memberi seperangkat
kemampuan dasar yang memilih kecenderungan berkembang. Dalam perspektif Islam
kemampuan itu disebut dengan fitrah yang dalam pengertian etimologis,
mengandung makna kejadian atau suci. Secara kronologis kata فطرت berasal dari
kata kerja فطر yang berarti menjadikan. Allah berfirman dalam Qur’an surat
Ar-Rum ayat 30 ;
Artinya:
“Hadapkanlah wajahmu dengan lurus
kepada agama Allah. Tetapkanlah pada fitrah Allah yang telah menciptakan
manusia menurut fitrah tersebut. Tidak ada perubahan bagi fitrah Allah, itulah
agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. (QS. Ar-Rum :
30)
Berdasarkan
firman Allah tersebut, dapat kita ketahui bahwa makna fitrah adalah suatu
kemampuan dasar manusia yang berkembang secara dinamis, dianugerahkan kepada
Allah kepadanya dan mengandung komponen-komponen tersebut bersifat dinamis dan
responsif terhadap pengaruh lingkungan sekitar, termasuk pengaruh pendidikan.
Komponen-komponen tersebut menurut H. M. Arifin sebagaimana dikutip oleh Beni
Ahmad adalah sebagai berikut:
1.
Bakat,
yakni suatu kemampuan pembawaan yang potensial dan mengacu pada kemampuan
akademis, profesional, dalam berbagai bidang kehidupan. bakat ini berpangkal
pada kemampuan kognisi, konasi, dan emosi.
2.
Instink
atau gharizah, suatu kemampuan
berbuat atau beraktivitas tanpa melalui proses belajar.
3.
Driver
atau dorongan nafsu, dalam tasawuf dikenal adanya jenis nafsu, seperti lawwamah, mutma’innah.
4.
Karakter
atau watak, karakter ini berkaitan dengan tingkah laku moral dan sosial serta
etis seseorang.
5.
Intuisi,
merupakan kemampuan psikologis menusia untuk menerima ilham Tuhan.
Sedangkan
potensi manusia menurut Munawar Khalil yang dikutip oleh Muhammad Muntahibun
Nafis disebutkan bahwa potensi tersebut sebagai hidayah yang bersifat umum dan
khusus, yaitu:
a.
Hidayah
wujdaniyah, yaitu potensi manusia
yang berujud insting atau naluri yang melekat dan langsung berfungsi pada saat
manusia dilahirkan dimuka bumi ini.
b.
Hidayah
hissyah, yaitu potensi Allah yang
diberikan kepada manusia dalam bentuk kemampuan indrawi sebagai penyempurna
hidayah pertama.
c.
Hidayah
aqliyah, yaitu potensi akal sebagai penyempurna dari
kedua hidayah di atas. Dengan potensi ini manusia mampu berfikir dan berkreasi
menemukan ilmu pengetahuan sebagai bagian dari failitas yang diberikan
kepadanya untuk fungsi kekhalifahannya.
d.
Hidayah
diniyah, yaitu petunjuk agama yang
diberikan kepada manusia yang berupa keterangan tentang hal-hal yang menyangkut
keyakinan dan aturan perbuatan yang tertulis dalam Al-Qur’an dan as-Sunnah.
e.
Hidayah
taufiqiyah, yaitu hidayah sifatnya
khusus. Quraish Shihab berpendapat bahwa untuk mensukseskan tugas-tugasnya
selaku khalifah Tuhan di muka bumi, Allah memperlengkapi makhluk ini dengan
potensi-potensi tertentu, antara lain:
1)
Kemampuan
untuk mengetahui sifat-sifat, fungsi, dan kegunaan segala macam benda.(Al-Baqarah:
231)
2)
Ditundukkan
bumi, langit dan segala isinya oleh Allah kepada manusia. (Al-Khasiah: 12-13)
3)
Potensi
akal pikiran serta panca indra. (Al- Mulk: 23)
4)
Kekuatan
positif untuk merubah kehidupan manusia. (13:11)
Dalam
Hasan Langgulung bahwa pada prinsipnya
potensi manusia menurut pandangan Islam tersimpul pada sifat- sifat Allah (asmaul
husna) yang berjumlah 99.
Selain
potensi yang bersifat positif di atas manusia dilengkapi pula dengan potensi
yang bersifat negatif yang merupakan kelemahan manusia. Pertama yaitu potensi
untuk terjerumus dalam godaan hawa nafsu dan syetan, kedua yaitu potensi banyak
masalah yang tidak dapat dijangkau oleh pikiran manusia.
Karena
adanya potensi yang positif dan negatif serta keterbatasan manusia, sebagai
penyempurnaan nikmat Tuhan kepada makhluknya, dianugerahkanlah kepadanya oleh
Tuhan yang mengetahui hakikat manusia petunjuk-petunjuk yang disesuaikan dengan
hakikat itu, serta disesuaikan pula fungsinya sebagai khalifah di muka bumi,
yaitu potensi untuk senantiasa condong pada fitrah yang hanif.
0 Response to "Macam-Macam Potensi Positif dan Negatif Peserta Didik"
Post a Comment