3 Tripusat Pendidikan

Lingkungan pendidikan yang mula-mula terpenting adalah keluarga. Pada masyarakat yang masih sederhana dengan struktur sosial yang belum kompleks, cakrawala anak sebagian besar masih terbatas pada keluarga.

Pada masyarakat tersebutr keluarga mempunyai dua fungsi yaitu fungsi produktif dan fungsi konsumsi. Pada umumnya kehidupan seorang anak didalam masyarakat tradisonal tidak jauh beda dengan kehidupan orang tuanya, di dalam masyarakat cenderung melihat sosok dan latar belakang orang tuanya dan lingkungan keluarga. Hal ini dapat menjadi dampak dan momok yang membingungkan dan membatasi anak dalam bersosial.

Tetapi di dalam masyarakat modern di mana industrialisasi semakin berkembang dan memerlukan spesialisasi. Maka pendidikan yang semula menjadi tanggung jawab keluarga itu kini sebagian besar diambil alih oleh sekolah dan lembaga-lembaga sosial lainnya.

Dalam keluarga pada masyarakat yang belum maju, orang tua merupakan sumber pegetahuan dan keterampilan yang diwariskan atau diajarkan kepada  anak-anaknya. Dalam keluarga  ini orang tua memegang otoritas sepenuhnya. Sedangkan dalam keluarga modern orang tua harus membagi otoritas dengan orang lain, terutama guru dan pemuka masyarakat, bahkan dengan anak mereka sendiri yang memperoleh pengetahuan baru dari luar keluarga.

Lain halnya dengan negara yang ada dalam negara barat, negara dengan materiil dan teknologi yang besar, sangat diperlukan penasehat untuk dapat menjadi pendiidkan dalam menhadapi era yang semakin maju, dan minim akan akhlak dan kebajikan. Dalam peraturan dasar perguruan tinggi Nasional Taman Siswa (putusan Kongres X tanggal 5-10 Desember 1966) pasal 15 ditetapkan bahwa :

a.   Untuk mencapai tujuan pendidikan nya, Taman Siswa melaksanakan kerja sama yang harmonis antara ketiga pisat pendidikan yaitu:

1)   Lingkungan keluarga;
2)   Lingkungan perguruan;
3)   Lingkungan masyarakat / pemuda.

b.   Sistem pendidikan tersebut dinamakan sistem “tripusat” (suparlan,1984:110). Bagi taman Siswa, di samping siswa yang tetap tinggal di lingkungan keluarga, sebgaian siswa tinggal di asrama (Wisma Priya dan Wisma Rini) yang dikelola secara kekeluargaan dengan menerapkan sistem Among. Sedangkan pada lingkungan masyarakat,taman siswa, menerapkan dengan penekanan pemupukan semangat kebangsaan. (Suparlan,1984: 119-120).

1) Keluarga

Komponen utama dalam keluarga adalah orang tua. Mereka adalah orang yang paling berpeluang mempengaruhi peserta didik. Keluarga merupakan pengelompokan primer yang terdiri dari sejumlah kecil orang karena hubungan semenda dan sedarah. Keluarga itu dapat berbentuk keluarga inti (nucleus family: ayah, ibu, dan anak), ataupun keluarga yang diperluas (di samping itu ada orang lain: kakek, nenek, adik/ipar, pembantu, dan lain-lain).

Perkembangan kebutuhan dan aspirasi individu maupun masyarakat, menyebabkan peran keluarga terhadap pendidikan anak-anaknya juga mengalami perubahan kegiatan. Dengan meningkatnya kebutuhan dan aspirasi anak, maka keluarga pada umumnya tidak mampu memenuhinya. Maka dari itu tindakan yang dilakukan oleh orang tua untuk memenuhi tujuan pendiidikan maka diambil suatu langkah mengikuti suatu kegiatan di luar sekolah sepetri kursus, belajar kelompok atau pun home teaching.

Fungsi dan peranan keluarga, disamping pemerintah dan masyarakat, dalam sisdiknas Indonesia  tidak terbatas hanya pada pendidikan keluarga saja, akan tetapi keluarga ikut serta bertanggung jawab terhadap pendidikan. Tidak sulit dipahami jika orang tua memiliki pengaruh yang besar dalam perkembangan anaknya. Sehubungan dengan ini terdapat hadits antara lain sebagai berikut:

a).   Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Nabi Rasulullah bersabda: “Setiap anak dilahirkan menurut fitrah (potensi beragama Islam). Selanjutnya, kedua orangtuanyalah yang membelokkannya menjadi Yahudi, Nasrani, atau Majusi bagaikan binatang melahirkan binatang, apakah kamu melihat kekurangan padanya?” (HR. Al-Bukhari)
b).   Menurut Al-Jamali,” Pendidikan Islam adalah proses yang mengarahkan manusia kepada kehidupan yang baik dan yang mengangkat derajat kemanusiaannya sesuai dengan kemampuan dasar (fitrah) dan kemampuan ajarannya (pengaruh dari luar).
c).   Menurut Ki Hajar Dewantara, suasana kehidupan keluarga merupakan tempat yang sebaik-baiknya untuk melakukan pendidikan orang-seorang (pendidikan individual) maupun pendidikan sosial. Peran orang tua dalam keluarga sebagai penuntun, sebagai pengajar, dan sebagai contoh.

2) Sekolah/Madrasah

Di antara tiga pusat pendidikan adalah sekolah/madrasah. Semakin maju suatu masyarakat semakin penting peranan sekolah dalam mempersiapkan generasi muda sebelum masuk dalam proses pembangunan masyarakatnya. Dari sisi lain, sekolah juga menerima banyak kritik atas berbagai kelemahan dan kekurangannya, yang mencapai puncaknya dengan gagasan Ivan Illich untuk membebaskan masyarakat dari wajib sekolah dengan buku yang terkenal bebas dari sekolah (deschooling society, 1972/1982).

Sekolah sebagai pusat pendidikan adalah sekolah yang mencerminkan masyarakat yang maju karena pemanfaatan secara optimal ilmu pengetahuan, dan teknologi. Dengan demikian sekolah seharusnya dapat secara seimbang dalam menghadapi perkembangan dan kebudayaan, aspek perbudayaan, aspek pengetahuan dan pemikiran peserta didik.

3) Masyarakat

Kaitan antara masyarakat dan pendidikan dapat ditinjau dari tiga segi yaitu:

a)   Masyarakat sebagai penyelenggara pendidikan, baik yang dilembagakan (jalur sekolah dan jalur sekolah) maupun yang tidak dilembagakan (jalur luar sekolah).
b)   Lembaga-lembaga kemasyarakatan dan / kelompok sosial di masyarakat, baik langsung maupun tak langsung, ikut mempunyai peran dan fungsi edukatif.
c)   Dalam masyarakat tersedia berbagai sumber belajar, baik yang dirancang (by design) maupun yang dimanfaatkan (utility).

Fungsi masyarakat sebagai pusat pendidikan sangat tergantung pada taraf perkembangan dari masyarakat itu berserta sumber-sumber belajar yang tersedia di dalamnya. Perkembangan masyarakat sangat  bervariasi, sehingga dapat dibedakan menjadi beberapa tipe. Menurut Koentjaraningrat (dari Wayan Ardhana,1986: modul 1/71-72) menurutnya ada enam tipe sosial-budaya yaitu:

a)   Tipe masyarakat berdasarkan sistem berkebun yang amat sederhana, hidup dengan berburu, dan belum mempunyai kebiasaan menanam padi.
b)   Tipe masyarakat perdesaan berdasarkan bercocok tanam di ladang atau sawah dengan tanaman pokok padi. Ini disebut juga dalam stratifikasi sosial sedang.
c)   Tipe masyarakat perdesaan berdasarkan sitem bercocok tanam di ladang atau sawah dengan pokok padi.
d)   Tipe masyarakat perdesaan berdasarkan sistem bercocok tanam di sawah dengan tanaman pokok padi. Sistem dasar kemasyarakatannya adalah komunitas petani dengan diferensiasi dan stratifikasi sosial yang agak kompleks.
e)   Tipe masyarakat perkotaan yang mempunyai ciri-ciri pusat pemerintahan dengan sektor perdagangan dan indistri yang lemah.

Menurut Muhammad Ustman Najati, selain orang tua, teman dan orang yang terdekat juga memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan perilaku anak, terutama pada masa remaja. Biasanya teman yang moralnya buruk kadang juga akan mempengarui orang yang sering menerimanya.pengaruh teman ini diperkuat oleh beberapa sikap studi yang menyoroti tindakan penyimpangan mereka.

Sebenarnya bila kita lihat dari penjelasan tripusat pendidikan ini, yang paling besar pengaruhnya adalah lingkungan masyarakat, lebih ke dalam kesibukan dan teman bermain anak itu sendiri. Lain halnya bila di sekolah, seorang murid atau peserta didik. Dia mengikuti segala ketentuan yang berlaku di sekolah tersebut, dengan perintah dan acuan seorang guru atau lembaga, sedangkan di dalam keluarga seorang anak akan melihat seberapa besar orang tua meluangkan waktu untuk mereka, ketika dalam lingkungan keluarga tidak ada keharmonisan seperti yang anak inginkan, maka ia akan mencari jalan dan kehidupannya sendiri.

0 Response to "3 Tripusat Pendidikan"

Post a Comment