Lingkungan pendidikan yang mula-mula
terpenting adalah keluarga. Pada masyarakat yang masih sederhana dengan
struktur sosial yang belum kompleks, cakrawala anak sebagian besar masih
terbatas pada keluarga.
Pada masyarakat tersebutr keluarga mempunyai
dua fungsi yaitu fungsi produktif dan fungsi konsumsi. Pada umumnya kehidupan
seorang anak didalam masyarakat tradisonal tidak jauh beda dengan kehidupan
orang tuanya, di dalam masyarakat cenderung melihat sosok dan latar belakang
orang tuanya dan lingkungan keluarga. Hal ini dapat menjadi dampak dan momok
yang membingungkan dan membatasi anak dalam bersosial.
Tetapi di dalam masyarakat modern di mana
industrialisasi semakin berkembang dan memerlukan spesialisasi. Maka pendidikan
yang semula menjadi tanggung jawab keluarga itu kini sebagian besar diambil
alih oleh sekolah dan lembaga-lembaga sosial lainnya.
Dalam keluarga pada masyarakat yang belum
maju, orang tua merupakan sumber pegetahuan dan keterampilan yang diwariskan
atau diajarkan kepada anak-anaknya.
Dalam keluarga ini orang tua memegang
otoritas sepenuhnya. Sedangkan dalam keluarga modern orang tua harus membagi
otoritas dengan orang lain, terutama guru dan pemuka masyarakat, bahkan dengan
anak mereka sendiri yang memperoleh pengetahuan baru dari luar keluarga.
Lain halnya dengan negara yang ada dalam
negara barat, negara dengan materiil dan teknologi yang besar, sangat diperlukan
penasehat untuk dapat menjadi pendiidkan dalam menhadapi era yang semakin maju,
dan minim akan akhlak dan kebajikan. Dalam peraturan dasar perguruan tinggi
Nasional Taman Siswa (putusan Kongres X tanggal 5-10 Desember 1966) pasal 15
ditetapkan bahwa :
a.
Untuk mencapai tujuan pendidikan nya, Taman
Siswa melaksanakan kerja sama yang harmonis antara ketiga pisat pendidikan
yaitu:
1)
Lingkungan keluarga;
2)
Lingkungan perguruan;
3)
Lingkungan masyarakat / pemuda.
b.
Sistem pendidikan tersebut dinamakan sistem
“tripusat” (suparlan,1984:110). Bagi taman Siswa, di samping siswa yang tetap
tinggal di lingkungan keluarga, sebgaian siswa tinggal di asrama (Wisma Priya
dan Wisma Rini) yang dikelola secara kekeluargaan dengan menerapkan sistem
Among. Sedangkan pada lingkungan masyarakat,taman siswa, menerapkan dengan
penekanan pemupukan semangat kebangsaan. (Suparlan,1984: 119-120).
1) Keluarga
Komponen utama dalam
keluarga adalah orang tua. Mereka adalah orang yang paling berpeluang
mempengaruhi peserta didik. Keluarga merupakan pengelompokan primer yang terdiri
dari sejumlah kecil orang karena hubungan semenda dan sedarah. Keluarga itu
dapat berbentuk keluarga inti (nucleus family: ayah, ibu, dan anak), ataupun
keluarga yang diperluas (di samping itu ada orang lain: kakek, nenek,
adik/ipar, pembantu, dan lain-lain).
Perkembangan
kebutuhan dan aspirasi individu maupun masyarakat, menyebabkan peran keluarga
terhadap pendidikan anak-anaknya juga mengalami perubahan kegiatan. Dengan
meningkatnya kebutuhan dan aspirasi anak, maka keluarga pada umumnya tidak
mampu memenuhinya. Maka dari itu tindakan yang dilakukan oleh orang tua untuk
memenuhi tujuan pendiidikan maka diambil suatu langkah mengikuti suatu kegiatan
di luar sekolah sepetri kursus, belajar kelompok atau pun home teaching.
Fungsi dan peranan
keluarga, disamping pemerintah dan masyarakat, dalam sisdiknas Indonesia tidak terbatas hanya pada pendidikan keluarga
saja, akan tetapi keluarga ikut serta bertanggung jawab terhadap pendidikan.
Tidak sulit dipahami jika orang tua memiliki pengaruh yang besar dalam
perkembangan anaknya. Sehubungan dengan ini terdapat hadits antara lain sebagai
berikut:
a). Abu
Hurairah meriwayatkan bahwa Nabi Rasulullah bersabda: “Setiap anak dilahirkan
menurut fitrah (potensi beragama Islam). Selanjutnya, kedua orangtuanyalah yang
membelokkannya menjadi Yahudi, Nasrani, atau Majusi bagaikan binatang
melahirkan binatang, apakah kamu melihat kekurangan padanya?” (HR. Al-Bukhari)
b). Menurut
Al-Jamali,” Pendidikan Islam adalah proses yang mengarahkan manusia kepada
kehidupan yang baik dan yang mengangkat derajat kemanusiaannya sesuai dengan
kemampuan dasar (fitrah) dan kemampuan ajarannya (pengaruh dari luar).
c). Menurut
Ki Hajar Dewantara, suasana kehidupan keluarga merupakan tempat yang
sebaik-baiknya untuk melakukan pendidikan orang-seorang (pendidikan individual)
maupun pendidikan sosial. Peran orang tua dalam keluarga sebagai penuntun,
sebagai pengajar, dan sebagai contoh.
2) Sekolah/Madrasah
Di antara tiga pusat
pendidikan adalah sekolah/madrasah. Semakin maju suatu masyarakat semakin
penting peranan sekolah dalam mempersiapkan generasi muda sebelum masuk dalam
proses pembangunan masyarakatnya. Dari sisi lain, sekolah juga menerima banyak
kritik atas berbagai kelemahan dan kekurangannya, yang mencapai puncaknya
dengan gagasan Ivan Illich untuk membebaskan masyarakat dari wajib sekolah
dengan buku yang terkenal bebas dari sekolah (deschooling society, 1972/1982).
Sekolah sebagai pusat
pendidikan adalah sekolah yang mencerminkan masyarakat yang maju karena
pemanfaatan secara optimal ilmu pengetahuan, dan teknologi. Dengan demikian
sekolah seharusnya dapat secara seimbang dalam menghadapi perkembangan dan
kebudayaan, aspek perbudayaan, aspek pengetahuan dan pemikiran peserta didik.
3) Masyarakat
Kaitan antara masyarakat dan pendidikan dapat
ditinjau dari tiga segi yaitu:
a)
Masyarakat sebagai penyelenggara pendidikan,
baik yang dilembagakan (jalur sekolah dan jalur sekolah) maupun yang tidak
dilembagakan (jalur luar sekolah).
b)
Lembaga-lembaga kemasyarakatan dan / kelompok
sosial di masyarakat, baik langsung maupun tak langsung, ikut mempunyai peran
dan fungsi edukatif.
c)
Dalam masyarakat tersedia berbagai sumber
belajar, baik yang dirancang (by design)
maupun yang dimanfaatkan (utility).
Fungsi masyarakat
sebagai pusat pendidikan sangat tergantung pada taraf perkembangan dari
masyarakat itu berserta sumber-sumber belajar yang tersedia di dalamnya.
Perkembangan masyarakat sangat
bervariasi, sehingga dapat dibedakan menjadi beberapa tipe. Menurut
Koentjaraningrat (dari Wayan Ardhana,1986: modul 1/71-72) menurutnya ada enam
tipe sosial-budaya yaitu:
a)
Tipe masyarakat berdasarkan sistem berkebun
yang amat sederhana, hidup dengan berburu, dan belum mempunyai kebiasaan
menanam padi.
b)
Tipe masyarakat perdesaan berdasarkan
bercocok tanam di ladang atau sawah dengan tanaman pokok padi. Ini disebut juga
dalam stratifikasi sosial sedang.
c)
Tipe masyarakat perdesaan berdasarkan sitem
bercocok tanam di ladang atau sawah dengan pokok padi.
d)
Tipe masyarakat perdesaan berdasarkan sistem bercocok
tanam di sawah dengan tanaman pokok padi. Sistem dasar kemasyarakatannya adalah
komunitas petani dengan diferensiasi dan stratifikasi sosial yang agak
kompleks.
e)
Tipe masyarakat perkotaan yang mempunyai
ciri-ciri pusat pemerintahan dengan sektor perdagangan dan indistri yang lemah.
Menurut Muhammad
Ustman Najati, selain orang tua, teman dan orang yang terdekat juga memiliki
pengaruh besar terhadap perkembangan perilaku anak, terutama pada masa remaja.
Biasanya teman yang moralnya buruk kadang juga akan mempengarui orang yang sering
menerimanya.pengaruh teman ini diperkuat oleh beberapa sikap studi yang
menyoroti tindakan penyimpangan mereka.
Sebenarnya bila kita
lihat dari penjelasan tripusat pendidikan ini, yang paling besar pengaruhnya
adalah lingkungan masyarakat, lebih ke dalam kesibukan dan teman bermain anak
itu sendiri. Lain halnya bila di sekolah, seorang murid atau peserta didik. Dia
mengikuti segala ketentuan yang berlaku di sekolah tersebut, dengan perintah
dan acuan seorang guru atau lembaga, sedangkan di dalam keluarga seorang anak
akan melihat seberapa besar orang tua meluangkan waktu untuk mereka, ketika
dalam lingkungan keluarga tidak ada keharmonisan seperti yang anak inginkan,
maka ia akan mencari jalan dan kehidupannya sendiri.
0 Response to "3 Tripusat Pendidikan"
Post a Comment